Counterpart Fund Second Kennedy Round (CF- SKR) Ubi Jalar Di Kabupaten Blitar Tahun 2016

Di tengah upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya guna mencapai swasembada pajale (padi, jagung, dan kedelai) sebagai konsekuensi terhadap janji politik Nawa Cita, Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Kabupaten Blitar sangat menyadari bahwa komoditas pangan yang lain juga penting dan tidak boleh diabaikan. Di antara tujuh komoditas pangan utama, Ubi jalar dalam kurun waktu tertentu akan mengalami penurunan produksi yang mengkhawatirkan kalau tidak ada perhatian khusus dari pemerintah, sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan serius guna mempertahankan atau bahkan dapat meningkatkan produksi komoditas tersebut. Terkait dengan masalah tersebut , Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian mempunyai program pengembangan  Ubi Jalar melalui CF-SKR (Counterpart Fund Second Kennedy Round) yang dapat dimanfaatkan dengan tepat guna dan mencapai sasaran, sehingga tidak mengecewakan negara pemberi hibah.

Counterpart Fund Second Kennedy Round (CF-SKR) merupakan dana hibah dari negara Jepang yang diberikan sebagai hibah murni (grant) bukan pinjaman lunak (soft loan) ke negara Indonesia melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Kegiatan hibah CF-SKR JICA ubi jalar dari mulai kegiatan penelitian dari hulu hingga bisnis ubijalar menyangkut ekspor pada hilirnya. Keberlanjutan sistem agribisnis ubijalar tersebut, sangat tergantung dari ketersediaan bahan baku yang dihasilkan oleh kebun maupun petani. Selain permintaan perusahaan dari Jepang, permintaan ubijalar yang terus meningkat juga disikapi oleh Indo Woo, sebuah perusahaan dari Korea yang berusaha mengekspor ubijalar dalam bentuk pasta beku (frozen paste) ke Korea, China dan Jepang dengan target rata-rata 500–600 ton/bulan. Namun target tersebut sangat sulit dipenuhi, oleh karena itu inovasi teknologi budidaya yang menjamin produktivitas tinggi menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Aneka Kacang dan Umbi, Balitkabi diharapkan dapat mengawal diseminasi inovasi teknologi hingga diterapkan oleh petani dalam skala luas sesuai target (sasaran) proyek (sumber: Balitkabi)

Kabupaten Blitar sesuai dengan syarat tumbuh sangat cocok untuk budidaya ubi jalar sehingga  mendapat alokasi 50 ha dari Kementerian Pertanian untuk kegiatan Pengembangan Ubi jalar terbagi menjadi 7 Kecamatan yaitu:

  1. Candirejo Kec.Ponggok 10 ha
  2. Ngoran Kec. Nglegok 5 ha
  3. Satreyan Kec.Kanigoro 15 ha
  4. Gondang Kec.Gandusari 5 ha
  5. Sidomulyo Kec.Selorejo 5 ha
  6. Pakisaji Kec.Kademangan 5 ha
  7. Kecamatan Binangun 5 ha

Bantuan berupa Sarana Produksi (saprodi) untuk budidaya, bibit yang di gunakan adalah varietas unggul lokal di antaranya Cilembu, Madu, Sari, dan lain-lain yang di minati oleh pasar, menanam ubi jalar mempunyai beberapa keuntungan antara lain :

  1. Resiko terserang Hama dan Penyakit relatif kecil.
  2. Perawatan sangat mudah.
  3. Harga pasar lebih stabil.
  4. Persaingan usaha tidak begitu ketat.
  5. Banyak perusahaan dan pengusaha yang ingin menjalin kemitraan.
  6. Masih banyaknya permintaan pasar untuk komoditi Ubi Jalar.

Ada beberapa petani yang sudah menjalin hubungan kemitraan dengan perusahaan maupun pengusaha maka dengan adanya program ini akan lebih bermanfaat dan membantu untuk berkembangnya ubi jalar di Kabupaten Blitar sehingga Kabupaten Blitar mempunyai sentra-sentra Ubi Jalar yang berkualitas lebih maju dan berdaya saing.

Di tengah upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya guna mencapai swasembada pajale (padi, jagung, dan kedelai) sebagai konsekuensi terhadap janji politik Nawa Cita, Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian Kabupaten Blitar sangat menyadari bahwa komoditas pangan yang lain juga penting dan tidak boleh diabaikan. Di antara tujuh komoditas pangan utama, Ubi jalar dalam kurun waktu tertentu akan mengalami penurunan produksi yang mengkhawatirkan kalau tidak ada perhatian khusus dari pemerintah, sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan serius guna mempertahankan atau bahkan dapat meningkatkan produksi komoditas tersebut. Terkait dengan masalah tersebut , Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian mempunyai program pengembangan  Ubi Jalar melalui CF-SKR (Counterpart Fund Second Kennedy Round) yang dapat dimanfaatkan dengan tepat guna dan mencapai sasaran, sehingga tidak mengecewakan negara pemberi hibah.

Counterpart Fund Second Kennedy Round (CF-SKR) merupakan dana hibah dari negara Jepang yang diberikan sebagai hibah murni (grant) bukan pinjaman lunak (soft loan) ke negara Indonesia melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Kegiatan hibah CF-SKR JICA ubi jalar dari mulai kegiatan penelitian dari hulu hingga bisnis ubijalar menyangkut ekspor pada hilirnya. Keberlanjutan sistem agribisnis ubijalar tersebut, sangat tergantung dari ketersediaan bahan baku yang dihasilkan oleh kebun maupun petani. Selain permintaan perusahaan dari Jepang, permintaan ubijalar yang terus meningkat juga disikapi oleh Indo Woo, sebuah perusahaan dari Korea yang berusaha mengekspor ubijalar dalam bentuk pasta beku (frozen paste) ke Korea, China dan Jepang dengan target rata-rata 500–600 ton/bulan. Namun target tersebut sangat sulit dipenuhi, oleh karena itu inovasi teknologi budidaya yang menjamin produktivitas tinggi menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Aneka Kacang dan Umbi, Balitkabi diharapkan dapat mengawal diseminasi inovasi teknologi hingga diterapkan oleh petani dalam skala luas sesuai target (sasaran) proyek (sumber: Balitkabi)

Kabupaten Blitar sesuai dengan syarat tumbuh sangat cocok untuk budidaya ubi jalar sehingga  mendapat alokasi 50 ha dari Kementerian Pertanian untuk kegiatan Pengembangan Ubi jalar terbagi menjadi 7 Kecamatan yaitu:

  1. Candirejo Kec.Ponggok 10 ha
  2. Ngoran Kec. Nglegok 5 ha
  3. Satreyan Kec.Kanigoro 15 ha
  4. Gondang Kec.Gandusari 5 ha
  5. Sidomulyo Kec.Selorejo 5 ha
  6. Pakisaji Kec.Kademangan 5 ha
  7. Kecamatan Binangun 5 ha

Bantuan berupa Sarana Produksi (saprodi) untuk budidaya, bibit yang di gunakan adalah varietas unggul lokal di antaranya Cilembu, Madu, Sari, dan lain-lain yang di minati oleh pasar, menanam ubi jalar mempunyai beberapa keuntungan antara lain :

  1. Resiko terserang Hama dan Penyakit relatif kecil.
  2. Perawatan sangat mudah.
  3. Harga pasar lebih stabil.
  4. Persaingan usaha tidak begitu ketat.
  5. Banyak perusahaan dan pengusaha yang ingin menjalin kemitraan.
  6. Masih banyaknya permintaan pasar untuk komoditi Ubi Jalar.

Ada beberapa petani yang sudah menjalin hubungan kemitraan dengan perusahaan maupun pengusaha maka dengan adanya program ini akan lebih bermanfaat dan membantu untuk berkembangnya ubi jalar di Kabupaten Blitar sehingga Kabupaten Blitar mempunyai sentra-sentra Ubi Jalar yang berkualitas lebih maju dan berdaya saing.

About Dinas Komunikasi dan Informatika