Ketahanan pangan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan. Revitalisasi produksi pangan harus ditingkatkan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di Indonesia. Percepatan revitalisasi pangan disertai dengan peningkatan pengetahuan petani pada produktivitas pangan, dalam hal ini terfokus pada hama/patogen pada tanaman. Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu daerah yang dijadikan sebagai lumbung pertanian Jawa Timur, dimana lahan pertanian masih cukup banyak serta penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Namun, kesejahteraan petani dikatakan masih belum makmur dan sejahtera. Hal ini dikarenakan produktivitas dan kesuburan tanaman cenderung menurun, banyaknya hama atau patogen tanaman yang bervariasi belum lagi harga jual hasil panen yang didapat tidak seimbang dengan modal kerja yang dikeluarkan. Selain itu, keterampilan dan pengetahuan petani juga dirasa masih kurang. Hal inilah yang menjadikan kesejahteraan petani belum dapat tercapai.
Tujuan dari dilaksanakan pengabdian masyarakat adalah (1) melakukan revitalisasi tanaman dengan meningkatkan produksi setelah menggunakan JAKABA sebagai POC. (2) Meningkatkan pengetahuan petani pada JAKABA sebagai POC yang murah, mudah, dan efektif dengan kandungan mineral dan unsur hara yang tinggi. (3) Meningkatkan kesejahteraan petani setelah mengembangkan JAKABA dan menjual melalui medsos dan marketplace.
Penguatan sektor pertanian melalui program peningkatan produktifitas perlu dilakukan dimana salah satunya berhubungan dengan peran penyuluh pertanian. trategi Kebijakan Penyuluhan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas pertanian adalah meningkatkan program-program terkait kelembagaan, kuantitas dan kualitas penyuluh serta perbaikan kelembagaan kelompok tani. Tujuan yang harus dicapai adalah peningkatan mutu penyuluhan pertanian, sasaran dari tujuan tersebut adalah peningkatan kualitas dan kuantitas penyuluh melalui pendidikan dan pelatihan, serta pemberdayaan kelompok tani (Elvarisna, 2014). Kurangnya pengetahuan petani akan update informasi terbaru mengenai teknologi pertanian menjadikan cara konvensional masih digunakan. Pemerintah membuat program regenerasi petani dan program wirausaha muda pertanian (Ariyanti, 2021).
Dibutuhkan sebuah cara terbaik untuk meningkatkan produktivitas pertanian yaitu dengan adanya Jamur Keberuntungan Abadi (JAKABA) yang merupakan jamur berkembang dengan inang air leri/cucian beras. Berdasarkan (Wulandari, 2012) Air cucian beras memiliki kandungan unsur hara N, P, dan K pada pupuk berbahan dasar air leri, limbah cair tahu dan daun lamtoro yaitu N sebesar 0,074%, P sebesar 0,03% dan K sebesar 0,0008 %. Pemberian pupuk organik cair berbahan dasar air leri, limbah cair tahu dan daun lamtoro memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman pakcoy meliputi tinggi tanaman, biomasa basah, serta panjang, lebar dan jumlah daun. Konsentrasi pupuk organik yang memberi efektivitas (pengaruh) terbaik pada pertumbuhan tanaman pakcoy setelah kontrol positif (AB Mix) adalah 250 ppm/wick system dengan penambahan silika 0,2g/L [10]. Jamur Keberuntungan Abadi (JAKABA) dapat menjadi solusi dari permasalahan pertanian dan dapat menambah pendapatan petani (Azizah, 2021).
Metode yang digunakan adalah persiapan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan identifikasi kebutuhan, belanja bahan, dan rundown kegiatan. Identifikasi kebutuhan memiliki peranan yang penting untuk mempermudah membuat catatan list kebutuhan barang, bahan, dan perlengkapan. Belanja bahan dilakukan secara berkala melihat dari progress setiap tahapan yang dilalui. Barang yang dibeli merupakan barang penunjang dalam pelaksanaan pengabdian. Rundown kegiatan dibuat sebagai aturan dan jadwal yang harus dilaksanakan baik oleh peneliti dan mitra. Tahap pelaksanaan diawali dengan pretes terlebih dahulu. Mitra diberikan sosialisasi berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan dan persiapan yang harus dilakukan oleh mitra. Dilaksanakan juga sosialisasi dan pelatihan pengembangan JAKABA, Pembuatan Indukan, percobaan pada tanaman, pelatiahan tentang digital marketing, packing dan penjualan.tahap monitoring dan evaluasi, dilaksanakan untuk memantau tahap persiapan dan pelaksanaan telah dilaksanakan dengan baik.
Hasil dan Pembahasan :
1. Indukan Jakaba
JAKABA merupakan kepanjangan dari jamur keberuntungan abadi hal ini berasal dari proses penemuan jamur yang mengandalkan keberuntungan dan jika beruntung akan dapat dibiakkan abadi atau selama-lamanya. Dalam proses persiapan, peneliti telah mempersiapkan bersama tim dan mahasiswa untuk proses awal dari indukan, pembibitan, pelatihan, aplikasi JAKABA pada tanaman, pelatihan branding dan marketplace hingga soal pretes postes yang harus dikerjakan oleh kelompok tani. Adapun tahapan dari pelaksanaan revitalisasi tanaman dengan JAKABA sebagai berikut:

Indukan Jakaba dikembangkan terlebih dahulu untuk mendapatkan JAKABA dari bahan utama air leri (air cucian beras). Berdasarkan hasil kajian penelitian yang telah dilakukan air leri memiliki kandungan unsur hara yang sangat mendukung pertumbuhan tanaman. Unsur hara yang terkandung dalam air cucian beras berada pada kisaran yang cukup diantaranya 0,03% N ; 0,42% P2O5 ; 0,06% K2O ; 0,46% C-organik (Ariyanti, 2021) dan 14,25% Ca, 2,94% Ca, 0,03% S, 0,04%Fe (Wulandari, 2012) untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga air ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi alternatif atau suplemen tambahan bagi tanaman. Air cucian beras mengandung vitamin B1 yang berperan dalam proses metabolisme tanaman untuk mengonversi karbohidrat menjadi energi penggiat aktivitas pertumbuhan di dalam tanaman (Samahah, 2015). Kandungan vitamin B1 pada air cucian beras dapat merangsang pertumbuhan akar pada masa pembibitan menjadi lebih cepat (Rahmayani, 2018).
Pada tahap indukan, dilakukan pelatihan untuk mendapatkan indukan atau jamur jakaba dari hasil rendaman air bekas cucian beras ke dalam wadah tertutup selama minimal 2 minggu. Air leri yang sudah terkumpul didiamkan selama 2 minggu dan jamur jakaba akan muncul. Kelompok tani diberikan arahan cara meletakkan atau menyimpan yaitu di dalam ruangan dengan suhu normal asalkan tidak terpapar sinar matahari secara langsung dan jangan dibuka tutup selama 2 minggu. Peneliti menghimbau untuk menyampaikan hasil fermentasi dalam 2 minggu kedepan dalam bentuk dokumentasi. Adapun hasilnya sebagai berikut:

Indukan Jakaba yang diperoleh seperti gambar 2 diatas setelah 20 hari fermentasi. Dari 30 ember indukan yang beruntung mendapatkan jakaba sebanyak 12 ember. Hal ini terdapat beberapa faktor diantaranya: suhu lingkungan yang kurang mendukung, sering dibuka tutup karena penasaran, lupa tidak menutup ember, penyimpanan dibawah sinar matahari. Pada tahapan ini dikatan berhasil untuk mendapatkan indukan jakaba dengan persentase keberhasilan indukan jakaba sebesar 40%.
2. Pembibitan JAKABA
Tahap pembibitan jakaba mulai dilakukan pada tanggal 20 Juni 2022 bersama dengan kelompok tani “Barokah” dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Peneliti dan tim serta mahasiswa memberikan pengarahan kepada kelompok tani dalam membibitkan Jakaba agar dapat berkembang lebih cepat, yaitu dengan menambahkan booster dalam hal ini adalah beras merah, poor, dan dedak. Fungsi dari booster ini hanya mempersingkat dan mempercepat perkembangan jamur jakaba. Formulasi untuk membuat pembibitan adalah dengan langkah sebagai berikut: Mempersiapkan ember dengan penutupnya, Memasukkan air cucian beras sebanyak 10 liter kedalam ember, Memasukkan booster: beras merah sebanyak 6 sendok makan, Poor 5 sendok makan, dan dedak 6 sendok makan. Diaduk lalu letakkan pada tempat yang rindang dan terhindar dari sinar matahari langsung. memberikan penanda tanggal pembuatan dengan menggunakan kertas kalkir dan tidak buka tutup selama minimal 10 hari.
Berdasarkan dari hasil pelaksanaan kegiatan pembibitan, mitra kelompok tani sangat antusias dan guyub rukun dalam pembuatan bibit. Berdasarkan dari hasil wawancara diperoleh bahwa mitra sangat senang dengan adanya pengetahuan baru berkaitan dengan pupuk organik cair dan pestisida organik ditengah mahalnya harga pupuk. Saat ini beberapa tanaman mengalami fusarium yaitu pada tanaman jagung. Hampir 100% mitra merasa puas dan senang bisa membuat jakaba dan segera diaplikasikan pada tanaman. Setelah menunggu selama 2 minggu diperoleh hasil bahwa dari 30 ember bibit terdapat 9 bibit yang gagal. Adapun faktor yang membuat gagal yaitu: pemberian booster yang tidak sesuai komposisi, tempat penyimpanan yang kurang aman dari hewan ternak. Terdapat 23 ember yang berhasil, sehingga tingkat keberhasilan sebesar 76,6%.

3. Percobaan JAKABA pada Tanaman Kerdil dan Layu (Semua Jenis Tanaman) untuk dilakukan pengamatan selama 4 minggu
Pelaksanaan tahap ini diikuti oleh kelompok tani Barokah dengan langsung turun tangan pada area tanaman. Percobaan pada tanaman diawali dengan mempersiapkan alat dan bahan dengan langkah yaitu: Air Jakaba/jakaba sebanyak 1 liter dicampur dengan 14 liter air. (perbandingan 1:14), Siram pada tanaman baik pada bagian akar, batang maupun daun, Mengukur tinggi awal tanaman, Menempelkan kertas kalkir dengan diberikan tanggal dan tinggi tanaman. Mengamati perkembangan setiap satu minggu kedepan.
Pada tahap ini telah dilakukan profiling setiap satu minggu sekali untuk mengamati perkembangan tiap minggu. Berdasarkan dari beberapa percobaan pada tanaman yang diamati pada tanaman terong, jagung, semangka diperoleh progres yang signifikan. Adapun perkembangan tanaman dalam 1 minggu setelah diberikan perlakuan pemberian air jakaba sebagai berikut:

Berdasarkan hasil profiling diperoleh bahwa semula tanaman terong terkena fusarium dengan tinggi 10 cm setelah 1 minggu tingginya 20 cm dan tumbuh subur terhindar dari fusarium.
4. Perencanaan Usaha
Tahapan ini dilakukan dengan melakukan sosialisasi untuk tahapan awal perencanaan usaha. Pada sosialisasi ini diikuti oleh 15 mitra. Peserta jumlahnya turun karena pada saat ini terjadi panen bawang merah raya sehingga banyak yang tidak dapat hadir. Dalam sosialisasi diperoleh bahwa mitra memahami perencanaan usaha dari modal awal, harga beli, harga jual, untung, rugi, dan investasi. Dengan moto ATM (amati, tiru, modifikasi) maka akan menciptakan kreativitas baru. Saat ini kolaborasi diperlukan dan tidak bersikap individu.
5. Branding Produk dan Pengemasan
Tahap branding dan pengemasan dilakukan pada kelompok tani wanita “pesona gerung” untuk membuat toko pada market place. Pengemasan dilakukan dengan diawali dari wadah, plastik, isolasi, bublewrap, kardus, dan kertas untuk menulis alamat penerima. Ibu-ibu bersemangat untuk mengemas hingga jakaba siap untuk dijual dan dikirim melalui ekspedisi. Proses pada marketplace juga diajarkan untuk dapat langsung diterapkan pada proses jual beli.
6. Market Place untuk pemasaran online
Tahap ini merupakan tahapan tambahan yang diminta oleh kelompok tani “barokah” yang ingin juga belajar cara berjualan pada marketplace dan penjualan online melalui media sosial. Tahapan ini merupakan tahapan akhir dimana dilakukan postes yang diberikan kepada mitra untuk mengukur peningkatan pemahaman atau pengetahuan petani berkaitan dengan jakaba dan penjualan. Untuk postes telah dilaksanakan dengan memberikan 10 soal. Soal postes ini untuk membandingkan dengan data pretes yang telah dilakukan awal pada saat pra sosialisasi. Setelah tahapan ini selesai dilakukan peneliti mengucapkan terimakasih atas bantuan secara tenaga dan fikiran dan kontribusi lainnya. Pada tahap ini terjadi diskusi berkaitan dengan permintaan mitra untuk melakukan penelitian lanjutan setelah kegiatan ini berakhir. Petani mengharapkan terobosan dan solusi ditengah banyaknya ancaman gagal panen dan harga pupuk yang tinggi.


Penyusun : Isnawan (Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Nglegok Kab.Blitar)