UPSUS Pajale
Saya berharap melalui program upaya khusus (UPSUS) tiga komoditas utama padi jagung kedelai (pajale), Kementerian Pertanianberhasil mensukseskan kedaulatan pangan dalam 3 tahun, yaitu pada tahun 2017.Indikatornya tidak ada impor beras atau substitusi impor dan mendorong ekspor beras sehingga neraca perdagangan beras Indonesia ini surplus.Presiden juga telah merencanakan 1.000 desa berdaulat benih untuk melayani kebutuhan petani setempat dan desa sekitarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Pertanian secara serius, sistematis, dan terfokus melakukan identifikasi kunci permasalahan. Keenam masalah mendasar yang meliputi benih, pupuk, tenaga kerja termasuk penyuluh pertanian, infrastruktur pengairan, harga, dan koordinasi dengan instansi terkaitini berkontribusi terhadap kehilangan peluang produksi padi sekitar 20 juta ton GKG per tahun.
Pada tahun 2014, alsintan yang tersedia jumlahnya kurang lebih 3.000 unit.Sampai Oktober 2015, Kementerian Pertanian telah menyalurkan alsintan sebanyak 62.221 unit kepada seluruh petani Indonesia dan akan terus ditambah.Alsintan yang disediakan meliputi Rice Transplanter (mesin penanam padi), Combine Harvester (mesin panen kombinasi), Dryer (mesin pengering padi), Power Thresher (mesin penebah padi), Corn Sheller (mesin pengupas jagung), Rice Milling Unit (mesin penggiling beras), traktor, dan pompa air.
Saya akui upaya mencapai swasembada pangan yang dicanangkan tahun 2017 tidaklah mudah.Masih menjumpai banyak persoalan di lapangan.Masih ada irigasi yang bermasalah, keterlambatan pembagian dan distribusi pupuk hingga masalah teknis lainnya.
Namun pada sisi lain, saya bersyukurUPSUS Pajale yang dilaksanakan sudah memperlihatkan tanda-tanda positif, misalnya indeks pertanaman (IP) meningkat dan produktivitas padi naik sebesar 7-9 ton per hektar. Dan dampak UPSUStersebut sudah mulai terasa antara Bulan Oktober 2014 hingga Maret 2015 yang lalu,dengan adanya peningkatan luas tanam, penyaluran pupuk bertambah 265 ribu ton. Juga ada penambahan 400-500 ribu hektar luas tanam baru.
Saya berharap prestasi yang sudah mulai membaik tersebut terus dijaga dan ditingkatkan, sehingga target swasembada pangan benar-benar bisa direalisasikan tahun 2017 mendatang.Bahkan sebelum 2017.
Satu hal yang saya senangi juga adalah berkurangnya keluhan distribusi pupuk di petani.Sistem distribusi pupuk ke petani sudah ada perbaikan meski belum sempurna. Selama ini distribusinya masih terlambat, dengan sistem penunjukan langsung perusahaan pengadaan pupuk, proses distribusi mengalami perbaikan.
Dengan proses pengawasan yang ketat, adanya penyimpangan berupa oknum pengoplosan pupuk bida diatasi dengan baik. Dalam beberapa bulan ada 30 sampai 40 orang yang terseret kasus hukum. Dan keluhan soal pupuk yang biasanya dari petani mencapai 10 sampai 20 orang sehari.Sekarang per minggu tinggal 1-2 orang.
Program UPSUS Pajale Kementerian Pertanian jugaberhasil mengantisipasi gagal panen atau puso yang disebabkan bencana kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian di Indonesia.Dengan membagikan sekitar 21 ribu pompa air, membangun 1.000 embung dan 1,3 juta hektar irigasi tersier.
Pada tahun ini hanya ada 17 ribu hektar yang mengalami gagal panen, sementara tahun lalu terdapat sekitar 35 ribu hektar.Hal tersebut terjadi di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.Jika dibandingkan dengan tahun 2014 lalu, Kementerian Pertanian telah berhasil menurunkan risiko gagal panen sekitar 50%.Karena memang kita melangkah lebih awal dengan membangun sumur dangkal, pompa, sumur dalam, dan parit.
Atas dasar itu, saya melihat program UPSUS Pajale yang dilaksanakan terbukti optimal.
Untuk itu juga Kementerian Pertanian menyusun Rencana Strategis (Renstra) 2015-2019 yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19/Permentan/HK.140/4/2015 pada tanggal 6 April 2015 yang lalu. Ada enam sasaran strategis yang akan dilakukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian di Indonesia.Enam sasaran itu adalah swasembasa padi, jagung, dan kedelai serta peningkatan produksi daging dan gula, juga peningkatan diversifikasi pangan.
Sasaran strategis lainnya adalah peningkatan komoditas bernilai tambah, berdaya saing dalam memenuhi pasar ekspor dan subtitor (pengganti) impor. Kemudian, penyediaan bahan baku bio industri dan bio energi, peningkatan pendapatan keluarga petani, dan akuntabilitas kinerja aparatur negara yang baik.
Strategi utama yang ditempuh diantaranya melalui peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan lahan, peningkatan infrastruktur dan sarana pertanian, serta pengembangan dan perluasan logistik benih atau bibit.Selain itu, ada pula penguatan jaringan pasar produk petanian, dan peningkatan dukungan perkarantinaan untuk memastikan keamanan produk impor yang masuk ke Indonesia.
Saya berharap restra tersebut dapat menjadi terobosan terbaru dalam perkembangan sektor pertanian di Indonesia.Ini sebagai perbaikan program, khususnya dalam peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai dalam bentuk UPSUS, serta kebutuhan regulasi yang harus diwujudnkan pada 2016 mendatang.
Saya ingatkan kembali, agar kita tetap bersemangat dalam berjuang untuk petani dan bangsa karena pencapaian swasembada pangan melalui UPSUS ini harus dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dengan membangun komitmen dan koordinasi yang kuat di setiap lini.Saya harap melalui berbagai upaya tersebut di atas kita tidak perlu menunggu sampai tiga tahun untuk berswasembada pangan.Insya Allah! Sumber (http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/upsus-pajale/)
